Sabtu, 09 April 2011

Gagal Ginjal Akut


Gagal Ginjal Akut

GAGAL GINJAL AKUT
DEFINISI
Gagal Ginjal Akut adalah kemunduran yang cepat dari kemampuan ginjal dalam membersihkan darah dari bahan-bahan racun, yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah (misalnya urea).
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya
Suatu bahan yang biasanya dieliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan eksresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrine, metabolik, cairan, elektrolit dan asam basa.


PENYEBAB
Penyebab gagal ginjal dapat dikelompokkan kedalam:
1.Gagal Ginjal Akut Prerenal;
Gagal ginjal akut Prerenal adalah keadaan yang paling ringan yang dengan cepat dapat reversibel, bila ferfusi ginjal segera diperbaiki. Gagal ginjal akut Prerenal merupakan kelainan fungsional, tanpa adanya kelainan histologik/morfologik pada nefron. Namun bila hipoperfusi ginjal tidak segera diperbaiki, akan menimbulkan terjadinya nekrosis tubulat akut (NTA).
Etiologi
1.Penurunan Volume vaskular ;
a. Kehilangan darah/plasma karena perdarahan,luka bakar.
b. Kehilangan cairan ekstraselular karena muntah, diare.
2. Kenaikan kapasitas vaskular
a. sepsis
b. Blokade ganglion
c. Reaksi anafilaksis.
3. Penurunan curah jantung/kegagalan pompa jantung
a. renjatan kardiogenik
b. Payah jantung kongesti
c. Tamponade jantung
d. Distritmia
e. Emboli paru
f. Infark jantung.

2.Gagal Ginjal Akut Posrenal
GGA posrenal adalah suatu keadaan dimana pembentukan urin cukup, namun alirannya dalam saluran kemih terhambat. Penyebab tersering adalah obstruksi, meskipun dapat juga karena ekstravasasi
Etiologi
  1. Obstruksi
            a. Saluran kencing : batu, pembekuan darah, tumor, kristal dll.
            b. Tubuli ginjal : Kristal, pigmen, protein (mieloma).
  2. Ektravasasi.
3. Gagal Ginjal Akut Renal
            1. GGA renal sebagai akibat penyakit ginjal primer seperti :
                         a.  Glomerulonefritis
                         b. Nefrosklerosis
                         c. Penyakitkolagen
                         d. Angitishi persensitif
                         e.  Nefritis interstitialis akut karena obat, kimia, atau kuman
2.Nefrosis Tubuler Akut ( NTA )
Nefropati vasomotorik akut terjadi karena iskemia ginjal sebagai kelanjutan GGA. Prerenal atau pengaruh bahan nefrotoksik.Bila iskemia ginjal sangat berat dan berlangsung lama dapat mengakibatkan terjadinya nekrosis kortikol akut( NKA) dimana lesi pada umumnya difus pada seluruh korteks yang besifat reversibel.Bila lesinya tidak difus (patchy) ada kemungkinan reversibel.
Gagal ginjal akut bisa merupakan akibat dari berbagai keadaan yang menyebabkan:
- berkurangnya aliran darah ke ginjal
- penyumbatan aliran kemih setelah meninggalkan ginjal
- trauma pada ginjal.

Penyebab Utama Gagal Ginjal Akut
Masalah Penyebab Yang Mungkin
# Berkurangnya aliran darah ke ginjal Kekurangan darah akibat perdarahan, dehidrasi atau cedera fisik yg menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah
# Daya pompa jantung menurun (kegagalan jantung)
# Tekanan darah yg sangat rendah (syok)
# Kegagalan hati (sindroma hepatorenalis)
# Penyumbatan aliran kemih Pembesaran prostat
# Tumor yg menekan saluran kemih
# Trauma pada ginjal Reaksi alergi (misalnya alergi terhadap zat radioopak yg digunakan pada pemeriksaan rontgen)
# Zat-zat racun
# Keadaan yg mempengaruhi unit penyaringan ginjal (nefron)
# Penyumbatan arteri atau vena di ginjal
# Kristal, protein atau bahan lainnya dalam ginjal

GEJALA
Gejala-gejala yang ditemukan pada gagal ginjal akut: - Berkurangnya produksi air kemih (oliguria=volume air kemih berkurang atau anuria=sama sekali tidak terbentuk air kemih)
- Nokturia (berkemih di malam hari)
- Pembengkakan tungkai, kaki atau pergelangan kaki
- Pembengkakan yang menyeluruh (karena terjadi penimbunan cairan)
- Berkurangnya rasa, terutama di tangan atau kaki
- Perubahan mental atau suasana hati
- Kejang
- Tremor tangan
- Mual, muntah
Gejala yang timbul tergantung kepada beratnya kegagalan ginjal, progresivitas penyakit dan penyebabnya.
Keadaan yang menimbulkan terjadinya kerusakan ginjal biasanya menghasilkan gejala-gejala serius yang tidak berhubungan dengan ginjal.Sebagai contoh, demam tinggi, syok, kegagalan jantung dan kegagalan hati, bisa terjadi sebelum kegagalan ginjal dan bisa lebih serius dibandingkan gejala gagal ginjal.
Beberapa keadaan yang menyebabkan gagal ginjal akut juga mempengaruhi bagian tubuh yang lain.Misalnya granulomatosis Wegener, yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah di ginjal, juga menyebabkan kerusakan pembuluh darah di paru-paru, sehingga penderita mengalami batuk darah.

DIAGNOSA
Anamnesis yang teliti dapat membantu dalam menentukan penyebab gagal ginjal. Muntah, diare dan demam menandakan adanya dehidrasi. Adanya infeksi kulit atau tenggorokan yang mendahuluinya menandakan glomerulonefritis pascastreptokokus.
Kelainan laboratorium dapat meliputi anemia, yang dapat disebabkan oleh pengenceran akibat dari kelebihan beban cairan, peningkatan kadar BUN serum, kreatinin, asam urat dan fosfat. Dan antibodi dapat dideteksi dalam serum terhadap streptokokus. Pada semua penderita gagal ginjal akut, kemungkinan obstruksi dapat dinilai dengan melakukan roentgen abdomen, USG ginjal atau CT-Scan abdomen.


PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan harus ditujukan kepada penyakit primer yang menyebabkan gagal ginjal akut tersebut, dan berdasarkan keadaan klinis yang muncul.

PENGOBATAN
Tujuan dari pengobatan adalah menemukan dan mengobati penyebab dari gagal ginjal akut. Selain itu pengobatan dipusatkan untuk mencegah penimbunan cairan dan limbah metabolik yang berlebihan.
Asupan cairan dibatasi dan disesuaikan dengan volume air kemih yang dikeluarkan. Asupan garam dan zat-zat yang dalam keadaan normal dibuang oleh ginjal, juga dibatasi. Penderita dianjurkan untuk menjalani diet kaya karbohidrat serta rendah protein, natrium dan kalium.
Antibiotik bisa diberikan untuk mencegah atau mengobati infeksi. Untuk meningkatkan jumlah cairan yang dibuang melalui ginjal, bisa diberikan diuretik. Kadang diberikan natrium polistiren sulfonat untuk mengatasi hiperkalemia. Untuk membuang kelebihan cairan dan limbah metabolik bisa dilakukan dialisa. Dengan dialisa penderita akan merasa lebih baik dan lebih mudah untuk mengendalikan gagal ginjal.
Dialisa tidak harus dijalani oleh setiap penderita, tetapi sering dapat memperpanjang harapan hidup penderita, terutama jika kadar kalium serumnya sangat tinggi.
Indikasi dilakukannya dialisa adalah:
- Keadaan mental menurun
- Perikarditis
- Hiperkalemia
- Anuria
- Cairan yang berlebihan
- Kadar kreatinin > 10 mg/dL dan BUN > 120 mg/dL.


ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT

A. PENGKAJIAN
1. Aktifitas dan istirahat :
a. gejala : Kelitihan kelemahan malaese
b. Tanda : Kelemahan otot dan kehilangan tonus.

2. Sirkulasi.
Tanda : hipotensi/hipertensi (termasuk hipertensi maligna,eklampsia, hipertensi akibat kehamilan).
Disritmia jantung.
Nadi lemah/halus hipotensi ortostatik(hipovalemia).
DVI, nadi kuat,Hipervolemia).
Edema jaringan umum (termasuk area periorbital mata kaki sakrum).
Pucat, kecenderungan perdarahan.

3. Eliminasi
a. Gejala : Perubahan pola berkemih, peningkatan frekuensi,poliuria (kegagalan dini), atau penurunan frekuensi/oliguria (fase akhir)
Disuria, ragu-ragu, dorongan, dan retensi (inflamasi/obstruksi, infeksi).
Abdomen kembung diare atau konstipasi
Riwayat HPB, batu/kalkuli
b. Tanda : Perubahan warna urine contoh kuning pekat,merah, coklat, berawan.
Oliguri (biasanya 12-21 hari) poliuri (2-6 liter/hari).

4. Makanan/Cairan
a. Gejala : Peningkatan berat badan (edema) ,penurunan berat badan (dehidrasi).
Mual , muntah, anoreksia, nyeri uluhati
Penggunaan diuretik
b. Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban.
Edema (Umum, bagian bawah).

5. Neurosensori
a. Gejala : Sakit kepala penglihatan kabur.
Kram otot/kejang, sindrom “kaki Gelisah”.
b. Tanda : Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran (azotemia, ketidak seimbangan elektrolit/ asama basa.
Kejang, faskikulasi otot, aktifitas kejang.

6. Nyeri/Kenyamanan
a. Gejala : Nyeri tubuh , sakit kepala
b. Tanda : Perilaku berhati-hati/distrkasi, gelisah.

7. Pernafasan
a. Gejala : nafas pendek
b. Tanda : Takipnoe, dispnoe, peningkatan frekuensi, kusmaul, nafas amonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda( edema paru ).

8. Keamanan
a. Gejala : adanya reaksi transfusi
b. Tanda : demam, sepsis(dehidrasi), ptekie atau kulit ekimosis, pruritus, kulit kering.

9. Penyuluhan/Pembelajaran:
Gejala : riwayat penyakit polikistik keluarga, nefritis herediter, batu urianrius, malignansi., riwayat terpapar toksin,(obat, racun lingkungan), Obat nefrotik penggunaan berulang Contoh : aminoglikosida, amfoterisisn, B,anestetik vasodilator, Tes diagnostik dengan media kontras radiografik, kondisi yang terjadi bersamaan tumor di saluran perkemihan, sepsis gram negatif, trauma/cedera kekerasan , perdarahan, cedra listrik, autoimunDM, gagal jantung/hati.

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL :
1. Perubahan kelebihan volume cairan b/d gagal ginjal dengan kelebihan air.
2. Resiko tinggi terhadap menurunnya curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairandan elektrolit, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung, akumulasi/penumpukan urea toksin, kalsifikasi jaringan lunak.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan katabolisme protein
4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik/pembatasan diet, anemia.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d depresi pertahanan imunologi.
6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang mengingat.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan kelebihan volume cairan b/d gagal ginjal dengan kelebihan air
Tujuan :
Menunjukan haluaran urine tepat dengan berat jenis/hasil laboratorium mendekati normal; BB stabil, tanda vital dalam batas normal; tak ada edema.

intervensi :
-          awasi denyut jantung, TD, dan CVP
-          awasi berat jenis urine
-          catat pemasukan dan pengeluaran akurat
-          rencanakan penggantian cairan pada pasien
-          kaji kulit, wajah, area tergantung untuk edema
-          berikan obat sesuai indikasi
-          siapkan untuk dialisis sesuai indikasi
2. Resiko tinggi terhadap menurunnya curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairandan elektrolit, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung, akumulasi/penumpukan urea toksin, kalsifikasi jaringan lunak.
Tujuan : Mempertahankan curah jantung di butuhkan oleh TD dan denyut jantung/irama dalam batas normal pasien; nadi perifer kuat, sama dengan waktu pengisian kapiler.
intervensi :
-          awasi TD dan frekuensi jantung
-          observasi EKG
-          auskultasi bunyi jantung
-          perhatikan terjadinya nadi lambat, hipotensi, kemerahan, mual/muntah, dan penurunan tingkat kesadaran.
-          batasi cairan sesuai indikasi
-          berikan obat sesuai indikasi
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan katabolisme protein
Tujuan : Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi idividu, bebas edema.
Intervensi :
-          kaji/catat pemasukan diet
-          berikan makan sedikit tapi sering
-          timbang berat badan tiap hari
-          konsul dengan ahli gizi
-          berikan kalori tinggi, diet rendah/sedang protein
-          batasi kalium, natrium dan pemasukan fosfat sesuai indikasi
-          berikan obat sesuai indikasi
4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik/pembatasan diet, anemia.
Tujuan : Melaporkan perbaikan hasil berenergi. Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
Intervensi :
-          evaluasi laporan kelelahan
-          kaji kemampuan untuk beraktivitas
-          rencanakan periode istirahat adekuat
-          berikan bantuan dalam beraktivitas sehari hari dan ambulasi
-          awasi kadar elektrolit termasuk kalsium, magnesium, dan kalium.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d depresi pertahanan imunologi
Tujuan : tak mengalami tanda/gejala infeksi
Intervensi :
-          kaji integritas kulit
-          awasi tanda vital
-          awasi pemeriksaan lab
-          ambil specimen untuk kultur dan sensitivitas dan berikan antibiotic tepat sesuai indikasi
6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan
Tujuan : Menunjukan pemasukan dan pengeluaran mendekati seimbang; turgor kulit baik, membrane mukosa lembab, nadi perifer teraba, berat badan dan tanda vital stabil, dan elektrolit dalam batas normal.
intervensi :
-          ukur pemasuka dan pengeluaran dengan akurat
-          berikan cairan yang diizinkan selama periode 24 jam
-          awasi TD dan frekuensu jantung
-          perhatikan tanda dan gejala dehidrasi
-          kontrol suhu lingkungan; batasi linen tempat tidur
-          awasi pemeriksaan laboratorium
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang mengingat.
Tujuan : Menyatakan pemahaman kondisi, proses penyakit, prognosis dan pengobatan. mengidentifikasi hubungan tanda/gejala proses penyakit dan gejala yang berhubungan dengan factor penyebab. Melakukan perubahan perilaku yang perlu dan berpartisipasi pada program pengobatan.
Intervensi :
-          kaji ulang proses penyakit, prognosis, dan factor pencetus bila di ketahui
-          jelaskan tingkat fungsi ginjal setelah episode akut berlalu
-          diskusikan dialysis ginjal atau transplantasi bila ini merupakan bagian yang mungkin akan di lakukan di masa mendatang
-          kaji ulang rencana diet/pembatasan


DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer A dkk. Glomerulonefritis Akut dalam Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi ke-3. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapis FKUI, 1999:487-8 

Disusun Oleh: Fadlih Haerudin (05200ID09089)
Kls 2c


Jumat, 08 April 2011

MAKALAH PERITONEUM DIALISIS

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan Rahmat dan karuniaNya kepada kita semua, dan tidak lupa shalawat serta salam tetap terlimpah curahkan kepada Nabi besar yakni Muhammad SAW. Karena dengan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai peritoneum dialisis pada mata kuliah “Keperawatan Medikal Bedah III”.
 Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan  makalah ini, yang mana makalah ini telah terselesaikan. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan wawasan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca dalam melaksanakan kegiatan keperawatan dan mendapatkan hasil yang maksimal.
Segala kritik dan saran yang membangun, penulis harapkan demi kesempurnaan dan perbaikan makalah ini, karena makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca, amin.







Garut,08 April 2011








BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawatan masa kini dituntut untuk menggunakan metode pendekatan pe­mecahan masalah (problem solving approach) di dalam memberikan asuh­an keperawatan kepada pasien. Metode ini dilaksanakan dengan cara menggunakan proses keperawatan dalam semua aspek layanan keperawat­an. Untuk dapat menerapkan proses keperawatan, maka perawat harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan mengkaji, merumuskan diag­nosa keperawatan, memformulasi rencana dan melaksanakan tindakan keperawatan dan membuat evaluasi.
Pengkajian merupakan tahap pertama dalam proses keperawatan, di mana pada tahap ini perawat melakukan pengkajian data yang diperoleh dari hasil wawancara, laporan teman sejawat, catatan keperawatan atau ca­tatan kesehatan yamg lain dan pengkajian fisik.
Pengkajian fisik dalam keperawatan pada dasarnya menggunakan cara-­cara yang sama dengan pengkajian fisik kedokteran yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

1.2  Rumusan Masalah
a)      Apa pengertian dari dialisis peritoneum ?
b)     Indikasi apa saja pada dialisis peritoneum ?
c)      Bagaimana persiapan yang harus dilakukan ?
d)     Bagaimana pelaksanaan dialisis peritoneum ?
e)      Komplikasi apa saja yang muncul setelah dilakukan dialisi peritoneum ?

1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai proses keperawatan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Makalah ini juga disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “ Keperawatan Medikal Bedah III

1.4  Metode Penulisan
Dalam metode penulisannya penulis mengambil metode pustaka dimana saya melihat dari buku sumber dan di dukung dari yang lainnya.

1.5  Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1  LAtar Belakang
1.2   Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
1.4  Metode Penulisan
1.5  Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dialisis Peritoneum
2.2 Indikasi
2.3 Persiapan yang diperlukan
2.4  Pelaksanaan Dialisis
2.5 Komplikasi dialisis
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dialisis Peritoniem
Dialisis peritoneum adalah dialisis yang menggunakan membran peritoneum sebagai sarana petukaran cairan dialisis; berbeda dengan hemodialisis yang melalui pembuluh darah. Tujuan dialisis ialah mengeluarkan zat-zat toksik dari tubuh seperti ureum yang tinggi pada GGA atau GGK, atau racun didalam tubuh dan lain sebagainya.

2.2 Indikasi

Dibedakan indikasi klinik dan biokimis


Ø  Indikasi Klinik:
1.      Gagal ginjal
a.       Akut, ditandai dengan oliguriamendadak dan gejala uremia.
b.      Kronik, gunanya untuk menopang kehidupan selama pasien dalam pengawasan atau untuk rencana transplantasi ginjal.
2.      Gagal jantung atau edema paru yang sukar diatasi.
3.      Keracunan yang menimbulkan gagal ginjal atau gagngguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4.      Keracunan obat mendadak dan perlu mengeluarkan obat tersebut.
5.      Gejala uremia mayor. Yang menunjukan adanya gagal ginjal akut/kronik yang telah terminal dengan gejala:
a.      Muntah sering, kejang, disorientasi, somnolen sampai koma.
b.      Tanda hidrasi berlebihan: edema paru, gagal jantung, hipertensi yang tidak terkendali.
c.       Perdarahan.

Ø  Indikasi Biokimis

1.       Ureum darah lebi dari 250 mg%. Ureum sendiri tidak sangat toksik, tetapi diperlukan pemeriksaan ureum secara teratur selama dialisis.
2.       Kalium darah lebih dari 8 mEq/L. Peninggian kadar kalium darah lebih dari 8 mEq/L dapat menimbulkan atetmia jantung yang fatal.
3.       Bikarbonat darah kurang dari 12 mEq/L. Kadar bikarbonat darah yang rendah akan merupakan peluang terjadinya asidosis metabolik. Kadar bikarbonat plasma yang rendah secara klinik ditunj8ukan adanya pernafasan yang cepat dan dalam. Kontraindikasi mutlak pada hakekatnya tidak ada, tetapi harus hati-hati terhadap kemungkinan adanya peritonitis lokal, fistel atau kolostomi, penyakit abdomen, anastomosis pembuluh darah besar abdomen, perdarahan yang sukar diatasi.
Dialisis dilakukan dokter di kamar yang aseptik.

2.3 Persiapan yang diperlukan

a.      Persiapan cairan dialisis
Cairan untuk dialisis ada tersendiri adalahg dexterose yang berkadar 1,5%, 4,25% dan 7%. Selain itu harus tersedia larutan KCL, larutan  Natrium-Bikarbonat, Albumisol dan heparin 10 mg/ml. Untuk infus biasa diperlukan glukosa 5%-10%.
b.      Alat-alat untuk tindakan dialisis
1.      Set untuk dialisis (terdiri dari: Selang/kateter khusus yang telah dilengkapi denga klem. Kateter tersebut dimasukan kedalam rongga peritoneum dan bagian sebelah luar salah satu cabangnya dihubungkan dengan penampung urine (urine bag) atau kantong plastyikkhusus yang ada skalanya dan cabang yang lain ke botol cairan.
2.      Stylet atau bisturi kecil, trokar yang ssuai dengan ukuran kateter, pinset
3.      Sarung tangan steril
4.      Kasa dan kapas lidi steril
5.      Arteri klem 2
6.      Spuit 2 cc, 5 cc, 10 cc dan 20 cc
7.      Desinfektan: yodium/betadin 10% alkohol 70%
8.      Novocain 2%
9.      Gunting, plester, pembalut
10.Pengukat tanan atau kaki
11.Bengkok
12.Kertas untuk catatan
13.Tempat pemanas cairan yang harus selalu terisi air panas (khusus bila ada untuk pemanas cairan yang elektrik).
c.       Persiapan pasien
Bila pasien masih sadar diberitahukan dan diberikan dorongan moril agar pasien tidak takut. Satu jam sebelum dialisis dilaksanakan kulit pada permukaan perut sampai di daerah simpisis dibersihkan dengan air dan sabun kemudian sesudahnya dikompres dengan alkohol 70% sampai dialisis akan di mulai. Beritahukan pasien agar kompres tetap di tempatnya.
Pasien dipasang infus. Kandung kemih dikosongkan. Pasien disuruh berkemih atau dipasang kateter. Pasang pengikat pada tangan dan kaki (sambil dibujuk dan ikatan jangan terlalu kencang).


2.4 Pelaksanaan Dialisis

Setelah dokter berhasil melakukan pemasangan kateter dialisis, pangkal kateter dihubungkan dengan selang pada kantong penampung cairan dialisis yang digantungkan pada sisi tempat tudur (satu pipa dihubungkan dengan selang cairan dialisis). Pasang klem pada selang pembuangan ini.
§  Setelah persiapan selesai buka klem yang dari botol cairan dialisis; memasukan cairan ini berlangsung selama 15 menit untuk 1 botol cairan. Setelah cairan habis klem ditutup biarkan cairan berada didalam rongga peritoneum selama 30 menit. Banyaknya cairan yang dimasukan dimulai dari 30-40 ml/kg sampai maksimum 2 leter. Sesudah 30 menit.
§  Buka klem yang ke pembuangan; cairan akan keluar dalam waktu 15 menit. Jika tidak ancar berarti ada gangguan, dan banyaknya cairan yang keluar harus sebanding dengan yang dimasukan.Pada uumnya kurang sedikit; tetapi jika trlalu banyak perbdaannya harus memberitahukan dokter.
§  Bila cairan tidak kelur lagi,selangdi klem; masukn cairan dialisis dan selanjutnya dilakukan seperti siklus pertam. Siklus ini dapat sampai 24-36 kali sesuai dengan hasil pemeriksaan ureum. Ureum dikontrol setiap 3 jam selama dialisis berlangsung. Tesimeter dipasang menetap dan diukur secara periodik (sesuai petunjuk dokter dan melihat perkembangan pasiennya).
§  Selama dialisis biasanya pasin boleh minum; kadang-kadang juga makan. Untuk mencegan sumbatan fibrin pada selang dialisis pada setip botol cairan dialisis ditambahkan 1.000 Unit Heparin. Biasanya dilakukan terutama pada permulaan dialisis.

2.5 Komplikasi dialisis

Komplikasi dialisis dapat terjadi disebabkan karena drainase, infeksi, syndrom di sekuilibrium dialisis dan masalah yang timbul akibat komposisi cairan. Komplikasi tersebut adalah:
1.      Nyeri abdomen berat.
a.       Biula terjadi saat pengisian abdomen. Tindakannya selang segera di jepit (diklem), pasien diubah posisinya misalnya didudukan. Jika tidak ada perbaikan kateter harus diperbaiki (oleh dokter). Nyeri hebat mendadak mungkin disebabkan ruptur peritoneum.
b.      Bila mengikuti drainase, isi kembali ke ruang abdomen dengan sebagian dialisat.
2.      Penyumbatan drain.
a.      Urut perut pasien dan ubah posisi pasien.
b.      Manipulasi kateter atau suntikan 20 ml dialisat dengan kuat untuk membebaskan sumbatan.
c.       Bila gagal, pindahkan kateter pada posisi lain.
d.     Berikan heparin pada dialisat untuk mengurangi pembekuan darah dan merendahkan fibrin.
e.      Kontrol dengan pemeriksaan sinar x.
f.        Bila ada perdarahan intraperitoneum yang masuk ke dalam kateter, kontrol kadar hematokit dialisat untuk menilai lama dan beratnya pendarahan.
3.      Hipokalsemia; dicegah dengan menambahkan 3,5-4 mEq/L kalsium per liter dialisat.
4.      Hidrasi berlebihan dapat diketahui dengan mengukur berat badan tiap 8 jam. Berat badan pasien akan turun 0,5-1% setiap hari. Jika meninggi berikan dialisat dextrose 2-7 % atau ke dalam cairan dialisat ditambahkan cairan dextrose 1,5% dan 7% berganti-ganti atau bersama-sama dengan perbandingan 1:1.
5.      Hipovolemia dapat diketahui denga mengukur tekanan darah dan mengawasi tanda-tanda renjatan. Jika ada berikan albumin 5% secara intravena atau infus dengan NaCl 0,9%.
6.      Hipokalemia ditentukan dengan cara mengukur kadar kalium darah dan mengawasi perubahan EKG yang terjadi (gejalanya: perut kembung, nadi lemah).
7.      Infeksi dicurigai bila cairan dialisat yang dikeluarkan keruh atau berwarna. Peritonitis terjadi biasanya karena kuman gram negatif atau streptococus aures. Berikan antibiotik.
8.      Hiperglikemi terjadi karena absorbsi glukosa dari dialisat. Bila kadar glukosa darah meningkat, koreksi dengan memberikan insulin dengan dosis yang sesuai.
9.      Hipoproteinemia timbul karena keluarnya protein dalam dialisat. Bila terjadi, tindakannya diberikan albumin atau plasma.
10.Pneumoni dan atelektasis diberikan pengobatan baku.

Sindrom disekuilibrium dialisis lebih sering terjadi pada hemodialisis. Dapat terjadi selama dialisis atau setelah 24 jam pertama yang ditandai oleh gejala kelemahan umum, mengantuk, bingung. Lebih berat terdapat gejala tegang, hipertensi, berhentinya pernafasan dan denyut jantung. Diduga patogenesisnyan karena meningginya osmolalitas cairan serebrospinal dibandingkan dengan cairan eksrtaseluler. Perbedaan osmolalitas menyebabkan masuknya cairan kedalam otak. Sindrom ini diatasi dengan pemberian glukosa hpertoik secara intravena dan diharap dapat mengubah perbedaan osmolalitas hingga kembali normal.
Dapat terjadi, hiperglikemih nonketon sebagai akibat pengaruh osmosis glukosa yang memasuki ruang ekstraseluler selama dialisis yang tidak dimetabolisme secara sempurna pada saat uremia. Kadar glukosa dapat melampaui 500mg%. Untuk menurunkan kadar tersebut diperlukan insulin. Jika menggunakan cairan yang 7% dapat terjadi dehidrasi ekstraseluyler dan deplesi volume pembuluh darah yang menimbulkan renjatan.




BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.3.1  Kesimpulan

Dialisis peritoneum adalah dialisis yang menggunakan membran peritoneum sebagai sarana petukaran cairan dialysis. Dialisis peritoneum terdapat 2 indikasi diantaranya indikasi klinik dan biokimis. Tahap tahap dialisis peritoneum terdiri dari persiapan, Pelaksanaan dialisis peritoneum dan komplikasi yang terjadi setelah dilakukan dialisis peritoneum.

3.2  Saran

Kita selaku perawat harus harus mengetahui dan mahir untuk merawat klien dengan komplikasi yang terjadi pada klien yang telah dilakukan dialisis peritoneum..

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Blake, Wright, Waetchter.1970. Anomalous Formation of the Genito Tract, Edisi VIII, USS..
Price & Wilson, 1995, Patofisiologi, Edisi 4, Cetakan I, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.